Author: sendaru12

Misteri Boneka Okiku Asal Jepang yang Rambutnya Terus Tumbuh

Misteri Boneka Okiku Asal Jepang yang Rambutnya Terus Tumbuh

Misteri Boneka Okiku Asal Jepang yang Rambutnya Terus Tumbuh – Boneka Okiku merupakan sebuah boneka menyeramkan yang berada di sebuah kuil di Iwamizawa, Jepang. Ada kisah menarik sekaligus misterius berasal dari boneka yang udah tersedia sejak 1 abad yang lantas ini. boneka Okiku merupakan boneka 

Vetala, Roh Bijak Umat Hindu yang ‘Dirusak’ Menjadi Vampir Drakula

Vetala, Roh Bijak Umat Hindu yang ‘Dirusak’ Menjadi Vampir Drakula

Vetala, Roh Bijak Umat Hindu yang ‘Dirusak’ Menjadi Vampir Drakula – Dari sekian banyak kisah horor dunia, Drakula udah jadi sosok imaji paling menakutkan yang tetap mengiringi kegelapan malam. Tak sedikit terhitung yang mengadopsi cerita horor selanjutnya dengan balutan roman percintaan. Vetala, Roh Bijak Umat 

Cerita Horor Tumbal Pesugihan

Cerita Horor Tumbal Pesugihan

Cerita Horor Tumbal Pesugihan – Terkadang, tersedia manusia yang layaknya kehabisan akal, sampai mesti menempuh jalan pintas penuh darah dan dosa. Bekerja sama bersama sesuatu yang semestinya gak jadi tumpuan harap.

Cerita Horor Tumbal Pesugihan

cerita-horor-tumbal-pesugihan

Malam ini rekan kita Refty akan share pengalaman seramnya.

samsundahaliyikama.net– Aku Refty, umurku 27 tahun. Aku akan bercerita perihal moment seram yang saya alami 7 th. yang lalu, disaat itu umurku masih 20 tahun.
Begini ceritanya..

Waktu itu th. 2013.
Ketika itu saya tinggal di Malang, di tempat tinggal Tante May. judibolalive99 Tante May adalah adik Bapakku yang nomor empat dari tujuh bersaudara, beliau tinggal di Malang karena sesungguhnya bersama suaminya punyai usaha di kota apel itu.
Suami Tante May, Om Roy, lebih sering ke luar kota di dalam rangka mengurus usaha yang digelutinya. Jadi, praktis cuma tersedia aku, Tante May, Rifka (anak laki-laki Tante May), dan tiga orang asisten yang menopang mengurus tempat tinggal dan segala keperluannya.

Iya, cuma kita berenam yang tinggal di tempat tinggal besar nan mewah ini.
Rumah mewah dan besar?
Benar, Tante May dan keluarga mendiami tempat tinggal yang menurutku terlampau besar dan mewah. Rumah dua lantai, punyai 8 kamar besar, perabotan mahal mengisi tiap tiap sudut ruangan.
Rumah ini juga berdiri di atas tanah yang terlampau luas, nyaris satu hektar, karena itulah halaman dan pekarangan yang dimiliki jadi terlampau luas juga.
Kolam renang besar menghiasi halaman belakang, panas matahari gak enteng menembus sampai permukaan air karena beberapa pohon besar dan rindang berdiri di sekelilingnya.
Jadinya, saya yang cuma seorang putri dari pemilik warung kelontongan di Jogja, jadi layaknya tinggal di istana raja.
Lalu, kenapa saya mampu tinggal di tempat tinggal itu? Kenapa mampu tinggal di tempat tinggal Keluarga Tante May?
Begini,

Setelah lulus SMA di Jogja, saya sempat menganggur nyaris selama satu tahun. Kenapa gak Kuliah? Bapak belum lumayan punyai duit untuk biayanya, saya mampu jelas perihal hal itu.
“Ya sudah, tinggal di Malang saja, biar Tante dan Om yang membiayai kuliah kamu. Hitung-hitung sambil menemani Tante di rumah, sehingga jadi agak ramai kan jikalau tersedia kamu.”
Begitu ucapan Tante May disaat singgah singgah dan jelas jikalau saya menganggur setelah lulus sekolah.
Aku sungguh senang mendengarnya, kebaikan Tante May mampu jadi merupakan jalan keluar dari keinginanku untuk kuliah.
Ya sudah, singkat kata, Bapak dan Ibu sepakat untuk saya berangkat ke Malang dan tinggal di tempat tinggal Tante May.
Hingga akhirnya, kurang lebih awal th. 2013 saya mengawali hidup di kota Malang, kota besar yang sama sekali belum pernah saya kunjungi sebelumnya.
***
Aku akan bercerita sedikit perihal keluarga Tante May.
Yang saya ingat, Tante May dan Om Roy menikah pada pertengahan th. 90an, di awalnya mereka adalah rekan sekolah. Pernikahan mereka dikaruniai dua orang anak, Mala dan Rifka, Mala adalah anak pertama perempuan.

Lalu kenapa di awal cerita tadi saya cuma mengatakan Rifka? Mala ke mana?
Mala telah meninggal th. 2008, meninggal tragis karena kecelakaan motor. Jadi, anak mereka cuma tinggal Rifka seorang.
Nah, Tante May dan Om Roy ini (aku jelas ceritanya dari Bapak dan Ibu) sebelum akan Mala meninggal hidup terlampau pas-pasan, tinggal di Malang berpindah-pindah tempat tinggal kontrakan karena belum punyai tempat tinggal sendiri.
Sering kali saya mendengar jikalau mereka meminjam atau berharap duit dari kakak-kakaknya untuk sekadar menyambung hidup.
Begitulah, hidup mereka terlampau pas-pasan.
Bapakku telah beberapa kali menganjurkan sehingga mereka tinggal dan mengawali hidup lagi di Jogja saja dari pada sengsara di Malang, namun mereka gak mau, tetap bersikukuh mendambakan hidup di Malang.
Sampai pada akhirnya kabar duka itu datang.
Mereka mengabarkan jikalau Mala meninggal kecelakaan.
Keluarga besar kita terlampau sedih dan kehilangan, Mala anak yang pandai dan menyenangkan, akrab bersama keluarga.
Kamu kala itu lumayan terguncang.
Tetapi, sepeninggal Mala, saya dengar jikalau Tante May dan Om Roy hidupnya secara perlahan merasa membaik, kata Bapak usaha yang mereka rintis merasa banyak membuahkan hasil.
Pelan-pelan mereka mampu melunasi utang-utang dari keluarga maupun orang lain. Yang di awalnya tetap berharap atau meminjam uang, mereka merasa mampu memberi dan menopang keluarga lainnya.
Sampai akhirnya, pada th. 2010, mereka pada akhirnya mampu punyai tempat tinggal sendiri. Waktu itu rumahnya bukanlah tempat tinggal mewah yang saya ceritakan di awal tadi, masih tempat tinggal gak terlampau besar, namun kata Bapak telah juga tempat tinggal mahal.
Syukurlah, kita sekeluarga besar ikut senang bersama keberhasilan Tante May dan Om Roy di dalam hal ekonomi keluarga.
***
Bapakku anak pertama dari tujuh bersaudara, mereka seluruh lahir dan besar di Jogja, juga Tante May.
Pada th. 2011, adik Bapak yang paling bungsu, Om Seno, terkena PHK di perusahaan area dia bekerja, sejak itu dia menganggur.
“Ya sudah, Seno ikut saya ke Malang saja, bantu usaha kami, bantu pekerjaan Mas Roy. Dari pada nganggur di Jogja.”
Begitu kata Tante may setelah jelas jikalau Om Seno telah gak bekerja lagi.

Begitulah, pada akhirnya Om Seno berangkat dan tinggal di Malang, menopang usaha yang dijalani Om Roy.
Aku yang lumayan dekat bersama Om Roy, sedikit merasa kehilangan disaat dia pada akhirnya pindah kota, umur yang gak terpaut jauh menyebabkan kita layaknya rekan dan sahabat, beliau adalah tempatku bercerita.
Tetapi, kurang lebih enam bulan kemudian, kabar duka lagi datang..
Om Seno berpulang ke pangkuan Illahi, dia meninggal mendadak karena kecelakaan kerja, terjatuh dari atap tidak benar satu pabrik punya Om Roy.
Saat itu adalah moment terburuk di dalam hidupku, kehilangan om tersayang secara mendadak.
Aku kehilangan kawan akrab dekat, kehilangan area bercerita, kehilangan area berkeluh kesah..
Lagi-lagi kita sekeluarga berduka lumayan dalam.
***
Lalu, kurang lebih satu th. sepeninggal Om Seno, saya mendengar kabar jikalau tante May dan Om Roy telah pindah ke tempat tinggal baru. Menurut cerita dari Bapak dan adik-adiknya, keluarga mereka pindah ke tempat tinggal yang jauh lebih besar, lebih mewah, berdiri di atas tanah yang terlampau luas pula.
Yang di awalnya cuma punyai satu asisten tempat tinggal tangga, kini mereka telah dibantu oleh tiga asisten.
Senang? Tentu saja kita seluruh senang mendengar jikalau tersedia anggota keluarga besar yang telah terlampau berhasil keuangan, kaya raya.
Ya itu tadi, sampai pada akhirnya setelah lulus sekolah saya ditawari untuk tinggal di tempat tinggal tante May, disempurnakan akan dibiayai kuliah. Aku pun tinggal di Malang.
***
“Kamu jangan pernah masuk ke kamar itu ya, isinya perlengkapan kerja Om Roy. Nanti dia marah jikalau tersedia yang masuk ke ruangan itu.”
Begitu kata Tante May pada suatu kala pada hari pertama saya tinggal di rumahnya.
Sebelumnya, saya telah diajak berkeliling, dikenalkan bersama tiga asisten, dijelaskan perihal seluruh kamar dan ruangan yang tersedia di di dalam tempat tinggal terlampau besar ini.
Kamar yang dimaksud oleh Tante May tadi, yang gak boleh saya masuki, adalah kamar yang tersedia di lantai atas, letaknya di depan sebelah kanan dari kamar yang akan saya mendiami nantinya.
Pintu kamar itu tertutup rapat dan sepertinya terkunci, karena saya sempat hendak membukanya namun gak bisa.
“Ini kamar apa Tante?” Tanyaku disaat Tante May keluar dari belakang.

Ya itu tadi jawaban Tante May, katanya itu area area perlengkapan kerja Om Roy, lalu beberapa kali layaknya meyakinkan jikalau saya sama sekali gak boleh memasukinya. Ya sudah, saya tentu menurut, gak akan berani untuk menentang omongan Tante May.
Kamar yang misterius, begitu saya menyebutnya.
Di tempat tinggal Tante May, saya di sediakan kamar di lantai dua, kamar besar yang letaknya gak jauh dari tangga, identik bersebelahan bersama kamar mandi.
Di di dalam kamar telah tersedia perabot mahal, area tidur empuk dan nyaman, lemari besar, namun tanpa tv.
Kamar yang terlampau mewah menurutku.
“Oh iya, kunci pintu kamar kamu kayaknya masih rusak deh, Tante belum sempat untuk menghubungi tukang untuk memperbaikinya, tetap lupa.” Begitu kata Tante May disaat kita sedang di meja makan.
Benar adanya, pintu kamarku kuncinya rusak, mampu tertutup namun gak mampu dikunci. Ya sudah, gak apalah, toh di tempat tinggal ini terbilang aman, lagi pula saya terkesan gak sopan jikalau tetap mengunci pintu kamar.
Hari pertama dihabiskan bersama berkenalan bersama lingkungan tempat tinggal dan juga penghuni lainnya, sampai gak merasa pada akhirnya malam pun tiba.
Aku bersama Tantu May dan Rifka bersantap makan malam di meja makan. Bermacam makanan lezat tersaji di atas meja marmer besar yang saya percaya tentu harganya terlampau mahal, identik di sedang ruangan tergantung lampu kristal besar menerangi seisi area makan.
Sampai pada kala itu, saya belum juga berhenti terkagum-kagum bersama segala harta di tempat tinggal yang dimiliki oleh Tante May dan Om Roy, terlampau layaknya istana bersama perabotan layaknya untuk raja dan ratu. Sungguh kaya raya mereka.
“ Ya sudah, kamu istirahat pernah sana, tentu capek kan seharian ini.”
Tante May menutup pembicaraan kita malam itu, setelah itu kita masuk ke kamar masing-masing.
Oh iya, di lantai dua saya sendirian, gak tersedia lagi yang menempatinya tak sekedar aku.
Tante May dan Rifka masing-masing kamarnya di lantai satu. Para asisten tempat tinggal tangga kamarnya di belakang, terpisah dari bangunan utama.
Jam sembilan malam, saya telah berada di kamar.
Isi kepala masih tetap saja berkutat pada kekaguman akan kekayaan dan kehidupan mewah yang dimiliki oleh Tante May dan Om Roy. Mereka tentu telah terlampau bekerja keras untuk memperoleh ini semua, itu yang tersedia di di dalam pikiranku.
Mungkin kurang lebih jam sebelas malam pada akhirnya saya mampu tidur, tidurku lumayan nyenyak, namun gak lama.
Iya, tidur nyenyakku gak lama, kurang lebih jam dua saya lagi terjaga.
Sejak masuk kamar tadi, sengaja saya gak matikan seluruh lampu, saya cuma nyalakan lampu kecil di meja belajar untuk sekadar menerangi, sehingga gak terlampau gelap.
Sepertinya, saya terbangun karena semilir angin dingin yang mengelus tubuh, anginnya berembus masuk melalui pintu kamar yang di dalam kondisi terbuka.
Pintu kamar terbuka? Iya, saya juga heran, kok pintu kamar terbuka? Walaupun gak terbuka penuh, cuma setengah. Padahal saya terlampau percaya jikalau sebelum akan tidur tadi pintu telah di dalam kondisi tertutup. Ah kemungkinan karena tertiup angin, jadinya terbuka, begitu pikirku.
Karena pintu terbuka itulah saya jadi mampu menyaksikan ke luar, celahnya lumayan bagiku untuk memperhatikan gelapnya kondisi luar kamar.
Sangat gelap, area sedang lantai dua terlampau gelap, gak tersedia lampu menyala barang satu pun juga.
Beberapa kala lamanya saya diam memperhatikan gelap di luar, belum 100% jelas setelah terjaga, saya juga masih mengupayakan menyatukan niat dan tenaga untuk bangun dari tidur lalu menutup pintu.
Seiring bergulirnya kala dan merasa terbiasanya mata menyaksikan di dalam remang, saya merasa jikalau tersedia yang mengganggu pandangan, walau gak begitu jelas namun sepertinya saya menyaksikan tersedia sosok di area tengah, sosok itu berdiri diam memperhatikan saya yang masih terbaring di area tidur.

Masih berbentuk siluet hitam, namun saya jelas melihatnya, siapa itu?
Beberapa detik saya tetap memperhatikan, sampai sesudah itu timbul niat mendekati pintu untuk memastikan.
Bangun dari area tidur, lalu saya terjadi ke pintu,
Tapi setelah sampai, tiba-tiba bayangan hitam itu gak tersedia lagi, telah gak di tempatnya lagi, ke mana perginya?
Ah kemungkinan tidak benar lihat, begitu pikirku, lalu menutup pintu rapat-rapat.
Aku lagi tidur.
***
Hari seterusnya saya jalani bersama kegiatan yang sedikit banyak jadi kegiatan baru, entah itu menopang pekerjaan rumah, antar jemput Rifka sekolah, menopang usaha Tante May, apa saja saya laksanakan untuk mengisi kekosongan.
Belum tersedia kegiatan perkuliahan, karena kala itu pendaftaran masuk universitas sesungguhnya belum dibuka.
Seiring berjalannya kala juga, saya juga jadi lebih akrab bersama penghuni rumah, juga bersama para asisten tempat tinggal tangga.
“Mba, sesungguhnya kamar atas depan kamarku itu isinya apa sih? Kok sepertinya misterius sekali, gak tersedia orang yang boleh masuk.” Tanyaku kepada Mba Ning pada suatu ketika, Mba Ning adalah tidak benar satu ART.
“Ooh, kamar itu ya Mba. Saya juga gak tau pastinya, lah wong saya juga ndak pernah boleh masuk walau cuma untuk membersihkan. Pintunya kan tetap terkunci.” Begitu jawab Mba Ning.
Hmmm, aneh. Tapi ya sudahlah, saya gak menanyakan lebih jauh, kemungkinan karena mengisi kamar itu terlampau khusus bagi Tante May dan suami.
Jujur, selama tinggal di kamar atas, beberapa kali saya mendengar suara-suara aneh. Contohnya, beberapa kali terdengar langkah kaki naik atau turun tangga, pernah juga tersedia nada pintu terbuka, entah pintu yang mana.
Yang lumayan menyebabkan merinding, beberapa kali saya menyaksikan tersedia bayangan hitam tinggi besar melintas melalui depan pintu kamar, pintu kamar yang sedang malam di dalam kondisi terbuka, padahal saya percaya telah menutupnya sebelum akan tidur.
Mungkin tempat tinggal ini terlampau besar bagi penghuni yang cuma segelintir saja, jadinya lumayan menyeramkan, begitu pikirku.
Tapi, seiring berjalannya waktu, saya mengupayakan untuk mengabaikan dan mengabaikan tiap tiap keanehan yang kurasa, cobalah untuk sibuk bersama kegiatanku saja.
***
Tetapi disaat telah nyaris tiga bulan tinggal di tempat tinggal Tante May, walau gak begitu jelas pada pada akhirnya saya mampu menyaksikan mengisi kamar misterius itu.
Kok bisa? begini ceritanya..
Seperti biasa, kurang lebih jam sembilan malam saya telah berada di di dalam kamar. Hiburan cuma satu adalah ponsel kesayangan sambil menanti kantuk datang. Dapat dipastikan, lampu luar kamar telah di dalam kondisi mati semua, cuma kamarku saja yang masih terang.
Di sedang asiknya berponsel ria, selepas jam 10 saya mendengar sesuatu, tersedia nada yang sumbernya dari luar.
Aku mendengar derit nada pintu terbuka perlahan..
Saat itu saya belum jelas pintu manakah itu, karena tersedia empat kamar di lantai atas.
“Ah kemungkinan terbuka tertiup angin,” Begitu pikirku di dalam hati.
Tapi tiba-tiba terdengar nada lagi, kali ini sepertinya nada pintu tertutup.
Siapa yang keluar masuk tidak benar satu kamar? entahlah.
Setelah itu saya menentukan untuk mematikan lampu besar dan melepas lampu kecil tetap menyala layaknya biasanya. Kamar jadi temaram.
Ketika hendak merebahkan tubuh di area tidur, lagi-lagi terdengar nada pintu yang terbuka perlahan.

Saat itulah timbul rasa penasaran, saya bermaksud menyaksikan ke luar, untuk jelas pintu kamar mana yang terbuka.
Setelah telah terhubung pintu dan melongok ke luar, Benar dugaanku, luar kamar sungguh gelap gulita, cuma sedikit garisan sinar dari luar tempat tinggal masuk melalui sela-sela jendela yang jadi penerangan.
Untuk menopang penglihatan, saya memanfaatkan lampu dari ponsel yang tersedia di tangan sejak tadi
Cahaya terang ponsel menyapu tiap tiap sudut ruangan lantai dua yang luas ini, saya jadi mampu menyaksikan lumayan jelas. Hening dan kosong, sudah pasti itulah pemandangan yang tersedia di hadapan.
Sampai pada akhirnya pandanganku terhenti di tidak benar satu kamar yang pintunya di dalam kondisi terbuka.
Iya, ternyata kamar yang pintunya terbuka adalah kamar misterius itu!
Takut dan penasaran, dua rasa berkecamuk di di dalam kepala.
But in the end, penasaran mengalahkan segalanya, pada akhirnya saya menentukan untuk berkunjung ke kamar itu.
Langkahku pelan mendekat, namun walau jadi dekat tetap cuma menyaksikan pekat, sama sekali belum keluar mengisi kamar.
Sampai akhirnya, saya telah berdiri tepat di depan kamar misterius itu. Pintu gak terbuka penuh, cuma setengahnya saja, lalu perlahan saya mendorongnya sampai terbuka lebar.
Belum, ternyata saya belum mampu menyaksikan bersama jelas mengisi kamar, masih pekat yang terlihat.
Kemudian saya mengarahkan sinar ponsel ke di dalam kamar.
Pada kala inilah saya menyaksikan semuanya..
***
Yang pertama saya menyaksikan adalah area tidur besar berkelambu di segi kiri, rangka ranjangnya layaknya terbuat dari besi kokoh, kelambunya yang anggota depan di dalam kondisi terbuka sehingga saya mampu menyaksikan kasur di dalamnya.
Di atas kasur bertebaran banyak kuncup bunga, gak jelas jenis bunga apa, namun pada akhirnya saya jelas dari mana asal wangi bunga yang beberapa kali tercium di lantai atas.
Dinding ruangan tertutup seutuhnya bersama kain berwarna hitam, kain hitam itu menutupi sampai ke langit-langit.
Di sebelah ranjang tersedia meja besar yang di atasnya tergeletak banyak benda-benda aneh dan seram, beberapa di antaranya saya gak jelas benda apa.
“Tuhan, ruangan apa ini?” Aku bergumam di dalam hati.
Walaupun belum sempat menyaksikan semuanya, namun saya telah bermaksud untuk lagi ke kamarku saja, saya takut.
Tapi belum juga kaki ini melangkah, tiba-tiba saya mendengar suara.
Ada nada layaknya menggeram, pelan namun terdengar jelas.
Refleks, saya arahkan sinar ponsel ke sudut kanan kamar, karena menurutku nada itu berasal dari sana.
Detik berikutnya, jantungku layaknya berhenti berdetak, saya kaget ketakutan..
Ya Tuhan, saya menyaksikan tersedia mahluk hitam tinggi besar sedang berdiri di pojok kamar. Sebegitu tinggi sampai kepalanya nyaris menyentuh langit-langit. Sungguh sosok yang terlampau menyeramkan.
Melihat itu semua, saya langsung lari menuju kamarku.
Setelah telah di di dalam kamar, saya lalu menutup dan berdiri bersandar pada pintu, karena saya jelas jikalau pintu kamarku ini gak mampu dikunci.
Aku menangis pelan, ketakutan.
Tapi walau begitu, saya masih mampu mendengar nada di luar, nada pintu yang perlahan tertutup, saya percaya itu pintu kamar gelap.
Setelah itu, semalaman saya duduk bersandar di pintu sampai pagi menjelang.
Sejak itu, saya menyebut kamar misterius itu bersama sebutan kamar gelap.
***
Hari-hari berlalu, saya tetap jalani hidup di tempat tinggal Tante May.
Tante May mencukupi janjinya untuk membiayai kuliahku, kurang lebih bulan Agustus saya telah merasa berkuliah.
Tapi, seluruh kejadian seram di tempat tinggal tetap saya rasakan, tetap saja kejadian, itu yang membuatku terlampau gak betah.
Ditambah, entah telah dua atau tiga kali, saya mengalami mimpi aneh menyeramkan. Di mimpi, saya didatangi mahluk tinggi besar yang sering saya menyaksikan bergentayangan di di dalam tempat tinggal dan kamar gelap.
Sosok mahluk itu sungguh terlampau menyeramkan, saya gak mampu untuk menggambarkan.
Di di dalam mimpi, disaat mahluk itu datang, tubuhku sama sekali gak mampu bergerak, saya cuma mampu menangis.
Kemudian, dia capai tanganku, menyeretku, menarik tubuhku bersama kasar, lagi-lagi saya cuma mampu berteriak di dalam diam, terlampau terlampau ketakutan.
Lalu pada akhirnya kita layaknya berada di tepi jurang, jurang yang terlampau dalam, sampai saya gak mampu menyaksikan dasarnya.
Tiba-tiba, mahluk menyeramkan itu mengangkat tubuhku, lalu melemparku ke di dalam jurang!
Di kala inilah kebanyakan saya terbangun dari tidur, tersengal-sengal, berkeringat, lalu menangis sejadi-jadinya.
Beberapa kali juga saya bercerita kepada Bapak dan ibu perihal seluruh yang saya alami di tempat tinggal ini melalui sambungan telepon, saya ceritakan semua. Mereka cuma mampu menenangkan, berharap saya untuk lagi ke niat awal, yakni berkuliah, jangan pedulikan hal-hal lainnya.
Untuk sementara, saya mengupayakan untuk turuti omongan mereka, mengupayakan untuk kuat hadapi semuanya.
Hanya sementara..
***
Masih lekat di dalam ingatan, kala itu suatu hari di bulan November, cuma beberapa hari setelah hari lagi tahunku.
Sepulang kuliah kurang lebih jam lima sore, saya sampai di rumah. Ternyata Tante May dan Rifka sedang gak tersedia di rumah, cuma tersedia tiga ART.
“Pada ke mana Mba?” Tanyaku ke Mba Ning.
“Tadi jam tiga, berangkat ke Surabaya Mba, Rifka pingin jalan-jalan katanya, pulangnya besok sore.” Jawab Mba Ning.
Jalan-jalan? Kenapa mendadak? Kok gak bilang-bilang?
Ya sudahlah, kemungkinan mereka tersedia acara mendadak.
Yang pasti, saya mesti bersiap sendirian di tempat tinggal ini, di tempat tinggal besar ini, semalaman.
Singkat kata, malam pun tiba.
Karena sendirian, setelah makan saya langsung masuk kamar walau masih jam 1/2 delapan.
Rumah jadi sepi dan hening, kebanyakan terdengar nada tv atau pembicaraan tante May dan Rifka, kali ini gak tersedia nada sama sekali.
Rumah besar ini terlampau merasa kosong dan hampa.
Malam jadi larut, kurang lebih jam 10 rasa kantuk merasa singgah menyerang, saya yang seharian telah terlampau capek karena banyak berkegiatan pada akhirnya menyerah lalu tertidur lelap.
Tapi gak lama, jam satu sedang malam saya terjaga, lagi-lagi hembusan angin dingin menerpa tubuh membangunkanku.
Aku langsung memperhatikan pintu kamar, benar dugaanku, pintu di dalam kondisi terbuka, lagi-lagi layaknya itu.
Setelah sekian banyak moment yang telah saya alami di tempat tinggal ini, saya jadi gak berpikir panjang untuk langsung bangkit dari tidur, bermaksud untuk menutup pintu. Aku gak berkenan buang waktu, gak berkenan menanti sampai tersedia sesuatu yang seram lagi terjadi.
Tapi, disaat saya telah berada di dekat pintu dan hendak menutupnya..
“Dug, dug, dug, dug..”
Tiba-tiba saya mendengar nada layaknya itu.
Terkaanku, itu adalah nada pijakan kaki menyentuh ubin lantai, nada kaki yang sedang melangkah berjalan.
Aku tetap diam berdiri menajamkan pendengaran, cobalah menebak dari mana nada itu berasal.
Dari lantai bawah, saya percaya jikalau nada itu berasal dari bawah.
Entah apa yang tersedia di pikiran, saya terjadi pelan menuju beranda di dalam lantai dua, dari situ saya mampu menyaksikan kondisi di lantai satu.
“Dug, dug, dug, dug..”
Suara itu masih saja terdengar, kala saya masih berdiri di tepi pagar beranda memperhatikan ke bawah.
Awalnya saya belum menyaksikan apa-apa, karena tempat tinggal di dalam kondisi gelap gulita, cuma sedikit sinar yang masuk dari luar. Tapi, setelah mata telah jadi biasa menyaksikan di dalam gelap, pada akhirnya saya menyaksikan sesuatu.
Aku menyaksikan si empunya nada langkah kaki itu..
Sosok mahluk tinggi besar menyeramkan, dia terjadi menyusuri lantai satu, melangkah pelan menuju tangga, tangga besar menuju lantai atas, area di mana saya sedang berada.
Seketika itu juga tubuhku merinding, saya ketakutan. Tapi walau begitu saya masih saja diam terpaku memperhatikan semuanya, menyaksikan mahluk menyeramkan itu yang pada akhirnya sampai juga di depan tangga, lalu menaikinya.
Dia menuju ke arahku..
Terus terjadi pelan melangkahkan kakinya di anak tangga satu persatu.
Seperti tersadar, lalu saya melangkah mundur, perlahan mendekat ke pintu kamar, lalu memasukinya.
Di dalam, saya langsung menutup pintu rapat-rapat, lalu berlari menuju area tidur, menaikinya, sesudah itu duduk meringkuk di area paling sudut.
Aku sangat, terlampau ketakutan..
Berharap mahluk menyeramkan itu gak akan masuk.
Tapi harapan tinggal harapan, karena saya menyaksikan gagang pintu bergerak-gerak sendiri, tersedia yang sedang mengupayakan untuk membukanya dari luar.
Benar, karena beberapa detik sesudah itu perlahan pintu merasa terbuka.
Di sini saya merasa menangis, namun gak mampu berteriak.
Ketika pintu telah terbuka lebar, pada akhirnya saya menyaksikan sosok mahluk tinggi besar itu, dia berdiri diam memperhatikan. Aku terpaku, tubuhku kaku..
Kemudian dia melangkah masuk, pada kala inilah saya mampu menyaksikan bentuknya bersama jelas, terlampau terlampau menyeramkan, gak mampu saya menggambarkan..
Lalu sosok itu tetap mendekat dan jadi mendekat, layaknya mimpi jelek yang jadi nyata, saya rasakan semuanya..
Akhirnya, dia telah terlampau berdiri di samping area tidur, saya cuma mampu menunduk sambil tetap menangis.
Tapi, tiba-tiba ponselku berdering, ponsel yang saya tempatkan di atas area tidur di samping bantal, jadi gak kesulitan saya meraihnya.
Sambil menunduk saya terima panggilan telepon itu.
“Nak, kamu belum tidur? Kok perasaan Ibu gak enak ya? dari tadi Ibu gak mampu tidur, apakah kamu baik-baik saja?.”
Aku mendengar nada Ibu di ujung sambungan telepon, jadi menjadi-jadilah saya menangis.
“Bu, saya takut, saya gak tahan, saya pingin pulang saja Bu, saya takut Buuu.” Sambil menangis saya bilang layaknya itu sambil tetap menundukkan wajah.
“Iya nak, kamu pulang saja ya, kamu pulang.” Begitu jawab Ibu.
Aku tetap menangis, sambil menceritakan apa yang pernah saya alami dan apa yang sedang mengupayakan saya lewati malam itu.
Syukurlah, setelah itu saya pada akhirnya berani untuk mengangkat muka dan menyaksikan seisi kamar, ternyata mahluk seram itu telah pergi, gak tersedia kamarku lagi. Aku langsung berdiri lalu menutup pintu.
Malam itu saya ditemani Ibu sampai terlampau mampu tertidur.
***
Keesokannya, tiba-tiba Bapak singgah pada sore hari. Aku terlampau senang menyaksikan beliau, langsung saya peluk erat-erat tubuhnya.
“Pak, saya telah gak kuat lagi, saya berkenan pulang saja Pak, tolong bolehkan saya pulang ya Pak..” Ucapku sambil menangis sesegrukan.
“Iya nak, Bapak juga singgah untuk menjemput kamu kok, Bapak dan Ibu telah jelas semua. Ayok kita pulang.” Begitu kata Bapak.
Sore itu juga, saya pulang ke Jogja bersama Bapak. Meninggalkan tempat tinggal Malang bersama segala kengeriannya.
Terima kasih Tuhan, saya masih diberi peluang untuk hidup, terima kasih saya masih terselamatkan.
***
Hai, balik ke gw ya Brii..
Begitulah kisah seram yang dialami oleh Refty, semoga tersedia hikmah yang mampu diambil.
Tetap sehat, pake maskernya, jaga jarak, sehingga mampu tetap merinding bareng.

Keluarga Wanita Ini Diikuti Makhluk Halus Usai Sang Anak Ambil Boneka di Pantai

Keluarga Wanita Ini Diikuti Makhluk Halus Usai Sang Anak Ambil Boneka di Pantai

Keluarga Wanita Ini Diikuti Makhluk Halus Usai Sang Anak Ambil Boneka di Pantai – Percaya atau tidak, kejadian mistis sesungguhnya sering terjadi. Kejadian layaknya ini sesungguhnya tidak sanggup dijelaskan dengan nalar manusia. Namun tak sedikit orang yang mengalaminya. Seperti kisah seorang wanita bernama Zulaikha ini. Wanita