Cerita Horor terbaru : Ayu Namanya

Cerita Horor terbaru : Ayu Namanya

Cerita Horor terbaru : Ayu Namanya – Aktivitasku hanya itu-itu saja sesekali mengobrol bersama dengan bi Inah tidak mendapatkan jalur bagaiamana mampu mengimbuhkan anjuran kepada bapak.
“Tidak enak Purnama jika turut campur, lebih-lebih kondisinya tengah begini, bibi sebagian kali mendengar pertengkaran bapak dan ibu soal nek Raras, anjuran anda bagus tapi bagaimana, lebih-lebih ibu sudah tidak bicara lagi bersama dengan bibi juga,”.

Cerita Horor terbaru : Ayu Namanya

cerita-horor-terbaru-ayu-namanya

samsundahaliyikama.net – Aku lagi terdiam dan melenyapkan jauh mengimbuhkan anjuran kepada keluarga ini, benar juga apa yang dikatakan bi Inah. Sampai pada suatu pagi di mana saya tengah menyapu depan garasi sebab angin-angin yang kencang, menyebabkan sebagian daun terkumpul di depan garasi, baru saja mau selesai, bapak sudah tersedia di belakangku.

“Kondisi nek Raras jadi mencolok Pur, dan ibu senantiasa tidak mau mendengarkan omongan saya,” ucap pak Joni.
“Iya pak kasihan, lebih-lebih kerap sekali nek Raras teriak-teriak,” jawabku segera diam di samping pak Joni.
“Iya Purnama, ibu senantiasa tidak percaya, dan ini memang sakit, senantiasa begitu tidak jarang saya betengkar besar lebih-lebih disaat menyangkut kesalahan jaman selanjutnya dan ibu senantiasa menyangkal bukan sebab hal itu,” ucap pak Joni.
Aku tidak mampu menjawab apapun hanya diam, dan memang bisa saja pak Joni sudah sadar berkenaan tersedia dosa-dosa jaman selanjutnya yang harus termaafkan.
“Jika nasibnya seperti ini saya hanya mampu pasrah, kondisi ini sebagai balasan saya percaya sekali,” ucap pak Joni.
“Baginya tidak tersedia yang tidak bisa saja pak, berdoa dan meninta pertolonganya adalah satu langkah tidak tersedia langkah lain, Abah berpesan seperti itu, menghendaki maaf kepada penciptanya saja, jika memang terasa percaya tersedia kesalahan dimasa lalu, tapi menghendaki maaf bukankah tidak harus terasa tidak benar saja” ucapku Pak Joni hanya memandangku dan tersenyum.

“Saya coba bicarakan bersama dengan ibu, jika saya sudah laksanakan hal itu, bagi ibu kemungkinanya tidak Pur, tapi tidak tersedia salahnya saya coba,” ucap pak Joni.
Setelah pembicaraan singkat itu, serupa sekali saya tidak bersua bersama dengan pak Joni, bisa saja banyak menggunakan selagi di di dalam rumah. Sampai pada suatu malam di akhir bulan ini (bulan ke dua saya berkerja) di tempat tinggal ini.

Bagi anda yang suka bermain game online silahkan kunjungi link berikut : Judi Bola Live99

Terjadi pertengkaran hebat Bapak bersama dengan Ibu serupa masalahnya berkenaan nek Raras, yang jadi kondisinya mengenaskan. Apalagi pertengkaran itu waktunya disaat bi Inah selsai mengecek nek Raras, kendati lagi mampu makan dan minum tapi badan nek Raras jadi kurus dan bekas lukanya jadi parah, begitu informasi berasal dari bi Inah.
Bahkan saya tidak dulu melihat lagi nek Raras, sebab ketidak enakan dan takutnya mencampuri urusan keluarga lagi pula bukan tugas utamaku kerja di tempat tinggal ini.
Mendengar pertengkaran itu menyebabkan saya dan bi Inah juga masuk ke kamar tiap-tiap sebab terasa tidak enak harus mendengar apa yang meraka bicarakan, lebih kepada urusan keluarga.
Satu minggu sehabis pertengkaran itu, tiba-tiba bi Inah bicara padaku pagi hari, dan benar-benar bapak dan ibu selama itu hanya diam di rumah, sesekali terima tamu kawan bapak itu juga hanya mengobrol di kolam ikan saja, bisa saja kepada urusan bisnis saja.
“Purnama maafkan bibi, benar-benar bibi minta maaf, tadi di di dalam bibi bicara serupa ibu dan bapak, kerja kita selesai sampai sini, bibi akan pulang kampung dan anda juga harus pulang,” ucap bi Inah sambil menteskan air mata.
Ucapan bi Inah menyebabkan saya kaget.

“Kenapa memangnya bi?,” tanyaku.
“Kondisi nek Raras yang jadi parah dan sehabis pertengakaran itu, nek Raras akan dipindahkan ke tempat tinggal adiknya ibu paling kecil, di kota J katakanya biar berobatnya lebih dekat disana lebih lengkap dan hanya itu yang bibi dengar” ucap bi Inah
“Yaudah tidak apa-apa bi lagian kan sudah bukan urusan kita bi, hanya kasian saja,” jawabku.
“Iya besok malam nek Raras akan dijemput dan hari selanjutnya kita sudah tidak kerja lagi di sini,” ucap bi Inah.

Hal yang menyebabkan saya kaget dan bersyukur nek Raras akan berobat lebih serius, kendati hal-hal yang saya yakini itu adalah sebab akibat, sebab saya menyusun tiap tiap mimipku jadi jawaban yang utuh.

Hari yang diucapkan bi Inah berkunjung bersama dengan cepat, lebih-lebih saya sudah mempersipakan lagi barang-barangku, tidak terasa selagi yang cukup lama dua bulan lebih di sini, akan tapi benar-benar lama bersama dengan perihal dan jaman selanjutnya keluarga ini yang begitu berpuluh tahun lamanya.

Malam itu benar saja, kendati belum tersedia omongan berasal dari bapak dan ibu kurang lebih dan 10 malam berkunjung mobil yang akan menjemput nek Raras, segera saya menolong menurunkan nek Raras, bagian wajah dan tanganya lebih-lebih sudah tertutup oleh kain putih, lebih-lebih tanganya.

Muka yang hanya tersisa sebelah yang masih terbuka, kendati sudah tertutup oleh kain putih tidak mampu menyembunyikan darah yang kental tercetak begitu saja, perlahan nek Raras sudah berada di di dalam mobil bersama dengan Ibu, selanjutnya ibu lagi terlihat untuk pamit kepadaku dan bi Inah.

Bi Inah mengangis sebab bukan selagi sebentar berkerja kepada ibu menitipkan sebagian pesan, yang tidak sadar saya dengar. Dan ibu juga bersalaman denganku, mengucapkan banyak terimakasih dan juga pesan ucapan makasih kepada mang Karta.

Bapak hanya buat persiapan sebagian yang akan dibawa, disaat ibu sudah lagi masuk ke di dalam mobil. Ada hal yang saya lihat, saya melihat wanita cantik itu duduk di sebelah Nek Raras, saya melihatnya berasal dari samping luar sebab saya sendiri yang menutupkan pintu mobil untuk ibu.

Terdengar berasal dari nafas nek Raras yang tidak tenang, bisa saja nek Raras juga merasakan kehadiran perempuan itu, segera saya tutup pintu mobil bersama dengan pelan sambil tidak terlepas tatapanku melihat ke arah perempuan itu.
Mobil yang mempunyai ibu dan Nek Raras perlahan terlihat gerbang begitu saja, saya lagi membereskan semuanya. Sampai di meja makan bapak dan bi Inah sudah duduk berdua menungguku.

“Maafkan saya bi Inah, Purnama dan bilang juga serupa Karta, setelah itu tempat tinggal ini akan kosong, sebab ibu senantiasa ingin pergi berasal dari tempat tinggal ini karna terasa di tempat tinggal ini Ibunya nek Raras tidak kunjung membaik ini untuk anda bi Inah, ini untuk Purnama dan ini titipan untuk karta, mohon di terima,” ucap pak Joni sambil mencegah air matanya keluar.
Aku dan bi Inah berterimakasih, lantas bi Inah buat persiapan makan terakhir untuk bapak dan aku.

“Boleh bertanya satu hal Purnama sebelum besok pergi?,” bertanya bapak.
“Boleh pak apa itu?,” jawabaku bersama dengan tenang.
“Ceritakan mimpi anda pada malam itu,” ucap bapak bersama dengan suara datar.

Segera saya ceritakan bersama dengan detail, lengkap serupa sekali tidak tersedia yang terlewat serupa sekali, bapak hanya diam memperhatikanku dan mendengarkan apa yang saya bicaran.
“Itu saja pak lengkap, tidak tersedia yang saya kurangi atau saya lebihkan,” ucapku bersama dengan gemeteran sebab lagi mengingat mimpi itu benar-benar menakutkan.
Bapak hanya diam tidak tersedia sepatah katapun terlihat berasal dari mulut bapak, tiba-tiba bapak berdiri dan mengajku masuk ke di dalam rumahnya.
“Di sini,” ucap bapak.

“Iya pak di sini,” ucapku menunjukan perihal di dalam mimpiku itu.
“Iya itu Ayu!,” ucap pak Joni perlahan.
“Karena saya sadar dan percaya itu balasan dendam berasal dari Ayu, anda sadar saya bertengkar hebat minggu lalu, sebab saya menyebut nama itu dan ibu tidak terima dan imbasnya begini, maafkan saya yah Purnama,” ucap pak Joni terasa bersalah.

“Tidak apa-apa pak bisa saja saya hanya sebagai saksi itu juga melalui mimpi jika bapak percaya terimakasih pak dan bapak tau, semoga percaya, saya melihtanya di di dalam mobil juga, semoga bukan itu dan bukan Ayu,” ucapku bersama dengan perlahan.

Bapak hanya mengangguk isyarat setuju, bisa saja percaya bisa saja tidak. Tapi setidaknya saya sudah impas bersama dengan bapak, saling mengimbuhkan dan mengatakan apa yang saya ketahui karna di awalnya bapak juga mengimbuhkan jawaban yang mengidamkan saya ketahui.

Malam terakhir di tempat tinggal ini, tidak tersedia masalah apapun, terlebih tidak sadar kenapa saya terasa sedih dan perlahan air mataku menetes begitu saja.
Pagi yang ditunggu tiba sehabis pamit minta maaf pada bi Inah dan kepada bapak, juga mendegarkan pesan baik-baik berasal dari bi Inah untuk mang Karta berkenaan doa untuk cepat pulih dan cepat mendapatkan pekerjaan lagi mang Karta.
Aku dan bi Inah berpisah sebab beda jurusan untuk menaiki angkutan umum untuk menuju bis, dan lantas sampai di kabupaten kampung halaman.

Untungnya saya masih ingat betul dan memang tidak susah menaiki bus jurusan kabupaten saya ini, di selama perjalanan Abah, keluarga dan mang Karta tentu terkejut bersama dengan kepulangan yang mendadak ini. Tapi tidak apa-apa saya akan lagi berkerja untuk kang Mamad.

Suasana dan pengalaman baru yang selagi itu mengidamkan sekali saya alami, akhirnya teraminkan kendati bukan pengalaman yang baik sebab banyak perihal yang jauh berasal dari akal juga nalar, tapi setidaknya saya benar-benar mampu bertangungjawab bersama dengan apa yg saya mengidamkan dan mampu menolong keluargaku.

Benar, tiap tiap kesalahan tidak mengenal selagi sebentar atau lama, seutuhnya mengikuti di selagi yang berjalan ini. Setiap kesalahan adalah pertangungjawaban bukan untuk mencari apa itu kebenaran tapi harus sadar untuk menghendaki maaf dan memaafkan.

Karena kesalahan di selagi yang sudah berpuluh tahun mampu jadi Dendam!, Dendam yang benar-benar harus terbalaskan tersedia dan sudah tidak ada jalan, tetaplah ingat bagi yang maha kuasa seutuhnya mudah.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *