Misteri Rumah Kopel 2: Tanah Kuburan

Misteri Rumah Kopel 2: Tanah Kuburan

Misteri Rumah Kopel 2: Tanah Kuburan – Masih ingat bersama pak Rahmat dari cerita Misteri Rumah Kopel 1?. Kali ini, cerita bakal berlanjut bersama narasumber yang sama. Sebenarnya terhadap episode 2, penulis memberi tambahan judul “Pulang” sebab di episode ini kisah telah bukan berkenaan Rumah Kopel, meskipun masih ada kaitannya.

Misteri Rumah Kopel 2: Tanah Kuburan

misteri-rumah-kopel-2-tanah-kuburan

samsundahaliyikama – Misteri tempat tinggal kopel season 2 masih dari pak Rahmat, tetapi bu Harti pun turut mengisi di dalam kelanjutan cerita ini.

Cerita berlanjut,

Sewaktu kita bakal pulang ke pulau Jawa, pagelaran ketoprak yang di awalnya bakal diselenggarakan, kini berjalan lancar. Di daerah tersebut, saya mengobrol bersama lebih dari satu warga.

Salah satunya, sebut saja pak Andi dan istri pak Andi, saya panggil bu Andi. Kita ngobrol sambil ketawa-ketiwi, di sela obrolan, bu Andi bilang jika besok mau minta tinggal ke rumah. Pak Andi cuma mampu diam, sebab malam itu termasuk dia tak mampu turut nonton ketoprak, dan saya pun mengiyakannya.

Esok harinya saya ke tempat tinggal bu Andi, saat itu Harti tak sadar sebab dia ada di rumah. Aku ngobrol mirip bu Andi sambil sesekali ngeledekin dia dan ternyata orangnya agak keganjenan. Maklum, meskipun pun suaminya bertubuh tinggi besar, tetapi agak Letoy di ranjang. Itu kata bu Andi.

Hmm, agak saru nih!, soalnya sehabis seminggu mau pulang ke pulau Jawa, ada kejadian horor. Semangatku untuk main ke tempat tinggal bu Andi agak kendor. Karena ada kabar, anak tetangga bu Andi meninggal.

Aku main ke tempat tinggal pak Andi, kita beramai-ramai menolong seluruh kepentingan manfaat pemakaman tetangganya. Sampai sore, kurang lebih pukul 16, selanjutnya selesai semua.

Karena menjadi lelah, saya pun segera beranjak pulang. Sampai rumah, saya segera mandi. Celanaku yang kotor, ku gantung di balik pintu kamar mandi.

Bagi anda yang suka bermain game online silahkan kunjungi link berikut : Situs Bandar Judi Bola | Pasang Bola | Taruhan Bola

Sehabis mandi saya pun tidur, sebab tak mampu menghambat lelahnya mata ini. Magrib pun datang, saya terbangun dari tidur sebab mendengar nada yang amat mengganggu.

Aku segera bangun dari daerah tidur dan melacak sumber nada tersebut. Suaranya layaknya seseorang yang tengah memukul-mukul tiang tempat tinggal memanfaatkan kayu. Suaranya amat kencang dan begitu memekakan telinga.

Anehnya, kadang waktu nada itu begitu nyaring, tetapi kadang waktu terdengar begitu sayup, seakan jauh. Suaranya begitu konsisten menerus dan saya rasa, sesungguhnya ada disekitaran rumah.

Kurang lebih setengah jam dan selanjutnya saya menghiraukan nada tersebut. Aku segera masuk ke dalam tempat tinggal dan lakukan salat magrib.

Tiba-tiba ada seseorang yang datang, sebut saja pak Ahmad. Orang yang dulu saya mau pinjam mobilnya, saat Harti mau melahirkan. Sebenarnya sehabis hal itu, saya dan pak Ahmad kerap jalur bareng, sebab suatu urusan usaha kecil-kecilan mirip dia.

Beliau pun masuk ke dalam rumah, lalu saya menyuruh beliau duduk. Karena saat itu, saya mau melewatkan pakaian salat yang saya kenakan. Lalu kita pun pergi terlihat dan duduk di teras tempat tinggal sambil ngobrol. Lalu, nada berikut lagi terdengar.

“Mas!, berisik banget!, siapa sih yang iseng-iseng membuat kebisingan malam-malam begini?,” tanya pak Ahmad.
“Entahlah pak!, dari tadi termasuk terdengar, tetapi sempat berhenti. Aku cari-cari, tetapi tidak mendapatkan siapa orang yang membuat kebisingan ini,” jawabku.
“Ya sudah, ayo kita cari lagi!,” ajak pak Ahmad.
“Ayo pak!,” balasku.

Akhirnya kita pun melacak lagi sumber nada yang mengganggu itu. Kita telusuri setiap pojokan dan bagian bawah tempat tinggal panggung ini.
“Iseng banget nih orang!,” gumamku.

Kita konsisten mencari, sampai sampai bagian belakang yang ada kamar mandinya. Anehnya, nada berikut tiba-tiba berhenti.
“Mas!, tadi habis dari mana?,” tanya pak Ahmad.

“Tadi habis ke pemakaman anak dari tetangga pak Andi,” jawabku. “Kenapa pak?,” tanyaku sambil memasuki kamar mandi.

“Ini Mas!, asalnya dari tanah yang Mas bawa di ujung celana Mas. Tadi Mas lupa bersihkan kan?, gak Mas cuci,” sadar pak Ahmad.

“Oh, gitu ya pak?,” ucapku sambil menyita celana berikut dan segera mencucinya.
Lalu, kita lagi ke teras dan lanjut mengobrol dan alhamdulillah, gak ada keanehan lagi terhadap hari ini.

Setelah kejadian malam itu, saya masih sempatkan main ke tempat tinggal bu Andi. Entah kenapa, saya lebih nyaman main ke rumahnya, meskipun cuma cuman ngobrol.

“Astaghfirullah, saya sampai lupa mirip anak dan istri. Semoga takkan berjalan yang tak saya inginkan,”
Beberapa hari berselang, selanjutnya kita pulang ke Jawa naik kapal laut.

Di selama perjalanan, saya lebih memilih mendiamkan Harti dan kepikiran konsisten bersama istri pak Andi.
“Apa saya terkena pelet?,” gumamku dalam hati.
Harti konsisten menggendong anak kita dan saya cuma memilih diam, melamun dan masih konsisten mengayalkan bu Andi.

“Mas!, kepalaku pusing!,” seru Harti.
“Ya sudah, nanti saya carikan obat, minta ke ABK,” jawabku dan pergi meninggalkannya.
Aku naik ke atas, yang awalnya idamkan minta obat. Tetapi langkahku terhenti, sebab ada hiburan dangdutan di kapal ini.

Walau perjalanan cuma 18 jam, tetapi ada hiburannya dan saya sampai lupa bersama obyek awal.
“Mas! Mas …!,” Harti memanggil, dia menyusul naik bersama cara sempoyongan.
“Aduh!, ganggu saja!,” gumamku dalam hati.

“Mas!, kamu kok tidak peduli padaku?, saya dari ruangan petugas tuk minta obat, nunggu kamu gak datang-datang dan rupanya malah diam di sini,” ucap Harti, tetapi saya cuma mampu diam dan mengantarnya lagi duduk di kursi penumpang.

Sepanjang perjalanan Harti konsisten menggendong sang buah hati, saya sendiri seakan tak peduli bersama seluruh itu dan cuma memilih diam.

Setelah lebih dari satu tahun di pulau Jawa, saya mendengar kabar dari keluarga yang ada di kota baru. Kalau bu Andi meninggal dunia sehabis kabur dari pak Andi dan hidup bersama laki laki lain. Meninggalnya pun, dalam suasana hamil.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *